Suatu saat ketika mampir di celotehsaya, ada sebuah tulisan besar yang tidak saya sadari. Dia menulis di tag line bahwa “behind my lack english, there is my lack nationalism“. Nasionalisme dewasa ini seakan menjadi sebuah endanger species. Dalam kondisi negara yang seakan jauh dari rakyat, kawula alit (seperti saya
) mungkin semakin malas berpikir tentang kebanggan bernegara. Ha wong mikir nyari kerjaan atau hidup sehari-hari saja sudah pusing
.
[updated] Sementara kadang kebijakan pemerintah rasanya tidak berpihak kepada rakyat. Kadang rasanya pemerintah seakan tidak peduli nasib rakyat kecil. Kenapa hal tersebut bisa terjadi, apakah mungkin karena pemimpin kita tidak “membumi”, tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi dan dirasakan rakyat. Oleh karena itu saya teringat filosofi lama tentang gaya kepemimpinan Panembahan Senopati yang konon katanya berpihak pada rakyat kecil. Mungkin jika rakyat kembali merasa diutamakan, nasionalisme itu kembali akan tumbuh. [updated]
Setahun yang lalu saya membaca sebuah artikel di Koran Kedaulatan Rakyat (05 February 2006) tentang pemimpin yang memihak rakyat ditinjau dari sudut pandang budaya dan sejarah. Bapak Totok Djoko Winarto/Ki Sondong Mandali, Pemerhati Kejawen, Ketua Yayasan Sekar Jagad membahasnya dengan jelas dalam tulisannya yang berjudul “Tapa Ngrame Dalam Kultur Wulangreh Wedhatama“. Beliau sebenarnya menyoroti nilai-nilai budaya lokal yang telah ditinggalkan bahkan oleh masyarakatnya sendiri dan posting berikut merupakan pemikiran beliau.
Demi terkesan nJawani banyak pihak sering mengutip unen-unen atau pepeling Jawa dalam berceramah, berpidato dan menulis. Namun pengutipan tersebut sering pula tanpa disertai penguasaan maknanya dengan benar. Maka akibatnya terjadi bias makna terhadap unen-unen dan pepeling tersebut ke arah yang negatif.
Demikian pula pengutipan yang tidak utuh dari serat-serat kapujanggan (Wulangreh, Wedhatama, dll.) berakibat menyimpang jauh pengertiannya. Misalnya tentang pemahaman contoh “laku utama” yang dihubungkan dengan kisah Panembahan Senopati yang ada dalam Wulangreh dan Wedhatama. Perjuangan Panembahan Senopati untuk mendapatkan “Wahyu Keraton Jawa” lebih dipahami sebagai “laku tapabrata” di tempat-tempat sepi semacam gunung, gua dan tepi Laut Kidul. Padahal sang pujangga sendiri dengan jelas memaparkan perjuangan yang dijalankan ada yang nyata dan membumi.
Dalam Wedhatama (pupuh Sinom) termuat dalam anak kalimat : “amamangun karyenak tyasing sesama”, selalu berbuat yang menyenangkan hati orang lain. Sedangkan dalam Wulangreh dijelaskan perjuangan Panembahan Senopati dalam mendapatkan “Wahyu Keraton Jawa” : “Tapane nganggo alingan, pan padha alaku tani, iku kang kinarya sasap, pamrihe aja ketawis, jubriya lawan kibir, sumunggah ingkang den singkur, lan endi kang kanggonan, Wahyu Keraton Jawi, tinampelan anggepe pan kumawula”. (Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Wulangreh Sinom 19). Bait tembang ini menyatakan bahwa dalam menjalani “laku”, Panembahan Senopati menjalani kehidupan sebagai petani. Artinya menjalani kehidupan rakyat yang sesungguhnya, menjauhkan watak sok kuasa, sombong dan angkuh. Maka kemudian Sri Sunan Pakubuwana IV berpesan bahwa siapapun yang ketempatan Wahyu Keraton Jawa sikapnya pasti merakyat (anggepe pan kumawula).
Bersikap memihak kepada rakyat dan lebih jelas lagi memihak kepada petani sesungguhnya merupakan “ideologi” raja Jawa. Namun ideologi tersebut tidak ditangkap secara cerdas oleh masyarakat Jawa sendiri. Orang Jawa terkesan lebih mementingkan laku-laku kebatinan untuk mendapatkan amanah kekuasaan. Barangkali hal ini merupakan “kecelakaan persepsi” akibat kesederhanaan berpikir wong Jawa dalam merespons pemikiran-pemikiran para empu dan pujangganya. Dalam banyak prasasti disebutkan pula keberpihakan raja-raja Jawa terhadap petani. Di antaranya berupa “statemen raja” yang membebaskan suatu wilayah dari kewajiban upeti (pajak) karena jasa rakyat wilayah tersebut membangun jaringan irigasi.
Sejarah Jawa sesungguhnya telah mewariskan hikmah perjuangan para tokoh-tokohnya dalam mendirikan kerajaan. Erlangga, Ken Arok, Raden Wijaya sampai Panembahan Senopati adalah contoh tokoh sejarah yang mendapatkan dukungan rakyat hingga mampu mendirikan negaranya. Mereka menyelami kehidupan rakyat secara nyata untuk menangkap “suara rakyat” yang sejati dalam rangka mendirikan kerajaannya. Maka mereka tergolong pemimpin yang mampu membangun human relation dengan rakyat, mampu berkomunikasi dengan rakyat dan mampu memotivasi rakyat untuk mendukung ide mendirikan kerajaannya. Persoalannya kemudian, bahwa kebanyakan para penerus dan “lingkar kekuasaan” mereka terbelit “kultur mukti wibawa”. Nikmat kekuasaan telah menghapus roh ideologi berpihak kepada rakyat.
Dalam Wulangreh dan Wedhatama dipesankan untuk meniru lakunya Panembahan Senopati. Wulangreh lebih ditujukan kepada kerabat keturunan raja dan birokrat Keraton. Keseluruhan isinya merupakan nasihat mengelola moralitas kekuasaan yang harus berpihak kepada kepentingan rakyat. Sedang Wedhatama merupakan ajaran yang lebih diarahkan memandu setiap individu Jawa dalam bermasyarakat. Fokus ajarannya merupakan pendidikan moral etika Jawa kepada generasi muda untuk bekal bermasyarakat. Substansi ajaran bukan hanya anjuran bertapabrata dan mimpi di awang-awang. Banyak juga yang membumi, misalnya tentang ajaran “wirya-arta-winasis” :
“Bonggan kang tan merlokena, mungguh ugering ngaurip, uripe lan tri prakara, wirya arta tri winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman ngulandara”. (K.G.P.A.A. Sri Mangkunagoro IV, Serat Wedhatama bait 29 pupuh Sinom).
Ajaran yang terkandung dalam bait tembang tersebut adalah menanamkan cita-cita kepada generasi muda untuk selalu berambisi menggapai kehormatan (wirya), kekayaan (arta) dan ketinggian ilmu pengetahuan (winasis). Dihubungkan dengan bait sebelumnya, maka bait tersebut merupakan ajaran Jawa dalam memberikan “penazaman arah” menjalani hidup tidak sekadar “ngupa boga” atau mencari nafkah saja. Dan ketika dihubungkan dengan bait-bait selanjutnya, maka ambisi mencapai “wirya-arta-winasis” tersebut belum merupakan kesempurnaan hidup. Sebab, menurut ajaran Jawa, kesempurnaan hidup adalah mencapai “titising pati”. Yaitu mampu mengembalikan semua elemen hidup yang dimiliki kepada sumbernya. Wadhag raga kembali sempurna ke alam semesta, roh (urip) kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedang yang tadinya “wujud” tinggallah nama yang bisa diteladani oleh anak keturunan.
Wedhatama yang memuat ajaran “wirya-arta-winasis” disusun dengan mengadopsi kisah peri hidup Panembahan Senopati. Kisah perjuangan “ksatria” Jawa yang merakyat dan mencitakan “perubahan”. Silang sengketa berebut legitimasi kekuasaan antar keturunan Demak dan Pajang telah menyengsarakan rakyat. Konflik horisontal diperparah dengan keinginan memisahkan diri para Bupati Pesisir dari kekuasaan “Demak-Pajang”. Panembahan Senopati adalah perwira Pajang yang bertugas memadamkan pemberontakan para Bupati Pesisir. Maka dialah perwira lapangan yang memahami penderitaan rakyat akibat konflik para elite kekuasaan. Diselami kehidupan nyata rakyat dan diberdayakan untuk mengadakan perubahan. Pemberdayaan rakyat tersebutlah yang sejatinya digunakan Panembahan Senopati memadamkan pemberontakan elite-elite kekuasaan di daerah dan mendirikan Kerajaan Mataram.
KGPAA Mangkunagoro IV adalah bangsawan Jawa yang prihatin terhadap eksistensi kekuasaan raja-raja Jawa yang keropos oleh perpecahan dan mulai masuknya penjajahan Belanda. Tersirat keinginan Mangkunagoro untuk meniru perjuangan leluhurnya. Namun situasi dan kondisi zaman sudah berubah. Sebagian besar tanah Jawa sudah dikuasai Belanda. Maka yang mampu dilakukan beliau adalah mengupayakan kesadaran rakyat untuk berdaulat.
Wedhatama dan Wulangreh serta banyak serat-serat kapujanggan lainnya disusun dalam kemasan tembang macapat. Media efektif yang mampu mencapai rakyat di pelosok desa di zaman itu. Dengan demikian bisa diasumsikan bahwa ajaran-ajaran yang termaktub dalam serat-serat kapujanggan tersebut dimaksudkan untuk menanamkan kesadaran untuk berdaulat kepada kawula (rakyat). Kedaulatan lahir batin wujud nyatanya disebut dalam Wedhatama berupa pencapaian kehormatan, kecukupan harta dan penguasaan ilmu pengetahuan. Sedang dalam Wulangreh mewajibkan seluruh pamongpraja untuk melayani rakyat sebagai pemilik kedaulatan negara sesungguhnya.
Kesederhanaan pemikiran para kawula memang tidak mampu menangkap dan menerjemahkan misi yang sesungguhnya dari serat-serat kapujanggan. Namun demikian berhasil mendokumentasikan ide-ide para pujangga tersebut dalam bentuk hapalan tembang-tembang. Sebagian besar cakepan (syair) tembang dalam seni karawitan Jawa mengambil dari serat-serat kapujanggan. Merupakan kelanjutan pendokumentasian namun kering jabaran maknanya. Itulah yang diwarisi masyarakat Jawa pada masa ini. Nilai-nilai luhur “Kultur Wulangreh We- dhatama” tersembunyi dalam keindahan seni budaya.
Kultur Wulangreh Wedhatama yang mengajarkan “wirya-arta-winasis” dan keberpihakan kepada rakyat semestinya perlu direkonstruksi kembali dan diperbarui kemasannya agar mudah dipahami masyarakat umum. Kemudian diletakkan pada aras kebersamaan membangun masyarakat yang hayu. Artinya bahwa seluruh rakyat perlu memiliki kehormatan (berjiwa patriot), makmur dan berpendidikan. Dengan demikian “Kultur Wulangreh Wedhatama” bukan semata-mata mengajarkan tapabrata dan berprihatin terus menerus. Dan perlu diingat pula pesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, “Tahta untuk rakyat”.






pertamax boleh..??
Waduh, baru dipost sudah di-pertamax
*boleh, boleh*
mohon maaf sebelumnya ya mas…otak saya yang kecil ini agak kurang nangkep..
klarisifikasi dulu…ahh iya saya memang merasa rasa nasionalisme saya dibawah standar yang seharusnya…saya akui, saya lebih suka menggunakan bahasa inggris daripada bahasa Indonesia, saya lebih suka menonton film asing daripada sinetron lokal
yang ini ndak masalah, sinetron lokal sekarang soalnya juga njiplak dari film asingdan kalo diberi kesempatan, saya sebenarnya ingin ganti kewarganegaraan *ditendang* intinya saya dan beberapa orang lain memang rasa nasionalismen ya rendah*baru komen*
IMO, rakyat itu cukup menjadi rakyat..ndak perlu ikut mengatur pemerintahan.. apa yang dilakukan oleh penguasa, saya rasa memang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat walaupun mungkin dirinya sendiri yang lebih disejahterakan dahulu…
*weks panjang, maafkan
*
Panjang ndak fafa mas
Iya, mau bikin laporan apapun, statistik apapun ke DPR, membuat janji apapun, kalau pada kenyataannya rakyatnya tidak sejahtera.
Kawula alit tetap akan merasa tidak nyaman
[updated]
Eh, yang saya tangkap dari paparan pak Totok Djoko Winarto adalah bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa mengatasnamakan rakyat jika ia tidak pernah tahu kehidupan rakyat yang sesungguhnya.
Menjadi pemimpin yang merakyat telah ditunjukkan oleh raja-raja jaman dulu.
*btw, saya juga ndak nonton sinetron, menyebalkan tuh*
*berarti emang saya salah tangkep*
yah ini kan karena perkembangan zaman. IMO, dulu itu pelapisannya ndak sampe segitunya cuman raja ke patihnya lalu langsung ke rakyat…kalo sekarang IMO agak susah juga bagi pemerintah tertinggi untuk melakukan tinjauan meskipun beliau memang ingin meninjau, saya rasa tujuan utamanya bukan tinjauan itu
*anak kecil ngaco, ndak usah didenger*
[...] ya kita ndak coba memimpin ego kita sejenak lalu meminta maaf dengan tulus saja pada semua hantu-hantu itu. Tapi sekedar maaf [...]
Sebenarnya filosofi “membumi” itu loh mas mungkin titik beratnya.
Kalau teknis pelaksanaan memang harus disesuaikan dengan perkembangan jaman, ndak mungkin juga kita nyuruh calon Presiden untuk mencangkul di sawah
Saya masih ingat waktu kecelakaan Kereta Ekonomi Bengawan, waktu itu di salah satu TV ada pernyataan seorang menteri bahwa tidak mungkin Kereta Ekonomi Bengawan itu kelebihan penumpang. Mbok ditanya para penumpang setianya, Bengawan itu kaya apa.
*btw, itu bukan ngaco kok
*
Saya sih kembali ke kutipan sakti.
“You’ll never know the feeling of the ‘Meager’. You may think you know it, but you’ve never lived it!”
Wiegfraf Folles — Final Fantasy Tactics
waduh, meskipun aku ndak terlalu mengerti serat yang di-ambil, tapi aku bisa nangkep kalau untuk jadi pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang bisa mengenal dan memahami rakyat-nya yah. tapi prinsip ini yang sebenar-nya sudah begitu lama di-gembar gembor-kan para pemimpin walaupun tidak pernah dilaksana-kan dengan semesti-nya
tidak hanya buat masyarakat umum saja tapi juga buat pemerintah dan pimpinan rakyat kan Gid
@ rozenesia
Wah, mas Gun ini benar-benar ngefans sama Final Fantasy yah
@ extremusmilitis
Yup Betul, karena merekalah yang menjalankan negara ini.
Mereka supirnya ……
Jadi ndukung Sri Sultan for Presiden dong mas kayak pak mul hehehe…..
Sri Sultan HB X for president !!!!!!!!!
*ups, ini bukan kampanye loh
*
Postingan yang bagus, nih, pak, sangat mencerahkan, mengingatkan kesadaran nurani kita akan pentingnya nilai-nilai hidup yang penuh kearifan, kewaspadaan, dan kejernihan. Sayang sekali, ya, Pak, “wirya-arta-winasis” yang tersirat dalam “Wulangreh-Wedhatama” itu makin seperti “jauh panggang dari api”. Bagaimana tidak, pak, adakah para pemimpin masa kini yang masih memiliki hati nurani untuk menyisakan sedikit kepekaannya terhadap nasib wong cilik yang hidup terlunta-lunta dan menderita? Waduh, kalau nilai-nilai kepemimpinan seperti yang tersirat dalam “Wulangreh-Wedhatama” itu bisa teraplikasikan dalam kehidupan masa kini, wah, bisa jadi jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin bisa dipersempit.
*Hingga saat ini saya pun masih mengagumi teks-teks sastra Jawa yang sangat dalam kandungan nilai falsafinya. *
sepertinya saya ndak bakat jadi pemimpin
jiwa ini lebih nyaman berada di jalanan
“Ha wong mikir hidup sehari-hari saja sudah pusing ”
pusing…pusing…pala ini pusing…pusing… halah nanti di komplain arman saya
mudah-mudahan ya mas sigid,negara Indonesia ini lepas dari kutukan mpu Gandring
biar para petingginya ga cuman rebutan kursi
@ Sawali Tuhusetya
Iya pak, semoga pemimpin kita mau “membumi”
@ Caplang
Saya juga ndak mbakat mas, jadi pemimpin (yang benar) harus banyak berkorban.
@ Baliazura
He he, kutukannya dah berubah ya dari rebutan keris menjadi rebutan kursi
Susah juga ya jadi pemimpin….
Susah mbak ….
Pemimpin sejati berkorban bagi anak buahnya dan bahkan rela mati demi mereka.
Saya ndak berbakat seperti itu
jadi kira-kira, gimana yah ngingetin orang-orang itu, pemimpin-pemimpin itu kalau tahta mereka itu adalah milik Rakyat?
Cara ngingetin pemimpin dan dewan yang terhormat yah.
I have no idea ….
Banyak orang telah mencoba dan sepertinya mereka belum didengar
Sayangnya, yg lebih terkenal dari sosok Panembahan Senopati (dan kerap dibanggakan oleh orang Jawa sendiri) adalah sisi mistikusnya, yaitu ketika beliau berhasil menaklukan Ratu Laut Kidul lewat media tapa brata, sambil melupakan bahwa tokoh ini sedemikian unggul bukan semata karena kesaktiannya, melainkan terutama karena kelakuan hidupnya yg sedemikian utama. Ia seorang penguasa yg ingin mengabdi, merendahkan diri. Ia tidak hanya merajai sebuah negara, melainkan merajai dirinya sendiri.
Lagipula saya pikir, tapa disini bukanlah dimaksudkan bertapa terus menerus. Tapa disini lebih merupakan suatu sikap hidup untuk mengendalikan “jagat cilik” dan dengan demikian ia sampe pada kesempurnaan lahir batin. Dan bukannya tapa yg dijadikan nilai tersendiri, tapa demi tapa.
Pada intinya adalah bahwa hakekat hidup bisa ditemukan dlm kesepian tetapi harus diteruskan dalam parameyan masyarakat. Sekalipun sang raja menjalankan tapa secara intens, namun kewajiban sehari-hari tidak boleh diabaikannya. Setiap orang mempunyai kewajibannya sendiri, entah itu petani, nelayan ataupun saudagar.
*Wek.. Komenku kepanjangan dan muter2 ya?*
serasa menyabot blog mas Sigid nih.Maaf mas, komennya kepanjangan..
Silahkan di edit saja..
Terimakasih.
Hayah, panjang ndak papa kok mas.

Justru penjelasannya malah menambah wawasan saya
Dan benar mas, sejak saya kecil pun yang melegenda dari raja-raja adalah raja sebagai orang yang memiliki kesaktian tinggi.
Mungkin cerita seperti itu diyakini banyak orang akan menambah wibawa, semacam superhero gitu
hadoh pusin mas saya baca postingan ini .
ndak papa kan saya cuma baca setengahnya ? hehehe…
tos ama bachtiar….
kita yang masi kecil ini memang nggak tau apa-apa ya…
*jadi bingung, mas hubungan nama saya dengan pemimpin yang merakyat apa ya..?? kok kecantol disitu..??*
@ bachtiar
Saya sepertinya juga tidak bisa menangkap semua hal dari pemikiran bapak ketua Yayasan Sekar Jagad ini
@ saya
). Ha wong mikir kebutuhan hidup atau nyari kerjaan saja rasanya pusing kok.
Oh, hubungannya dengan nasionalisme yang mulai memudar mas.
Sebagian rakyat kecil seperti kita mungkin sudah terlalu malas berpikir tentang nasionalisme (count me in
Sementara kadang kebijakan pemerintah rasanya tidak berpihak kepada rakyat.
Kadang rasanya pemerintah seakan tidak peduli nasib rakyat kecil.
Kenapa hal tersebut bisa terjadi, apakah mungkin karena pemimpin kita tidak “membumi”, tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi dan dirasakan rakyat.
Oleh karena itu saya teringat filosofi lama tentang gaya kepemimpinan Panembahan Senopati yang konon katanya berpihak pada rakyat kecil.
Mungkin jika rakyat kembali merasa diutamakan, nasionalisme itu kembali akan tumbuh.
Mungkin sebaiknya ini saya jadikan paragraf penghubung yah
kalau lihat sejauh mana nasionalisme di bangsa kita gampang
nasioanisme di indonesia hanya sebatas olah raga, kalau tim sepak bola indonesia tanding lawan negara lain pasti rakyat indonesia tiba-tiba muncul nasionalismenya
Semoga mas sigid, menjadi pemimpin yang membumi… amin
@ devilinheaven
He he, suporter itu sepertinya lebih condong ke eforia dan fanatisme mas
@ Sayap Ku
Walah, saya ndak cocok jadi pemimpin sepertinya mbak
walah jangan pemimpin yang membumi…
kesannya yang saya tangkep malah pemimpin yang sudah mati….
pemimpin yang benar-benar membumi adalah pemimpin yang dikebumikan
He he, membumi itu istilahnya pak Totok Djoko Winarto mas

Namun pemimpin yang baik kayaknya bersedia mati lho, untuk yang dipimpin
Maaf sebelumnya. Bagusnya klo Yth Bpk SBY meniru ahmadinejat (maaf klo namanya salah).
>Dengar” klo bertamu di rmh beliau, smua orang duduknya d atas karpet.
trus waktu anaknya merried, beliau menjamu tamu” dgn nasi dos. Bandingkan dgn megahnya acara pernikahan anak presiden kita.
>Smua warga d trima klo dtgsbagai tamu. D indonesia, jgnkan bertamu yg mau unjuk rasapun d usir. entah itu d balai kota, kantor gubernur, apalagi istana negara!
>The last, meski badannya nda sebesar ……….., tp beliau brani menantang penjajah yg atas namakan keselamatan dunia!!!
sori, kepanjangan, susah d edit!
@ kamandanu
He he, panjang ndak papa mas
Dengan kata lain ahmadinejad orangnya tidak hedonis ya mas.
Dan mungkin itu akan tercermin dari kebijakannya.