Sebuah sitkom lokal berjudul “OB” yang ditayangkan oleh RCTI menyuguhkan sebuah contoh pentas kekuasaan yang terjadi pada skala lebih kecil dibandingkan hidup keseharian. Dalam cerita ini ditampilkan seorang sosok manajer yang berkuasa dan sering marah-marah dan entah kenapa dalam plot selanjutnya, pegawai dalam posisi struktural di bawahnya memiliki kebiasaan yang tidak jauh beda. Demonstrasi kekuasaan ini kemudian menjadi semacam reaksi berantai. Seseorang yang mendapatkan perlakuan tidak enak dari superiornya kadang secara sadar atau tidak sadar kemudian melampiaskan kekesalan kepada subordinatnya. Manajer menekan bawahannya, bawahan manajer menekan bawahannya lagi dan seterusnya. OB yang di sini menempati level kepegawaian paling bawah selanjutnya menjadi semacam bulan-bulanan.
Dalam kasus dan intensitas yang berbeda, hal ini terjadi dalam dunia nyata di berbagai aspek kehidupan. Kejadian yang mirip (dengan OB sebagai obyek) bahkan sering terjadi. Sebagian orang cenderung mengambil keuntungan dari orang lain yang lebih lemah dan bukan hubungan mutual seperti yang selayaknya terjadi. Golongan masyarakat yang lemah atau miskin harus membiasakan diri dengan perlakuan yang kurang sopan, kurang nyaman atau bahkan kadang dihisap, diperalat untuk mendatangkan keuntungan bagi yang lebih kuat. Terlebih jika tampak jelas tidak memiliki kempuan untuk melawan.
Ketika seseorang berada di dalam posisi lemah, tersenyum, bergurau dan ignorant kadang merupakan resep jitu untuk tetap bertahan. Pada banyak kasus, manusia dalam posisi lemah seringkali tidak memiliki pilihan lain kecuali, menerima. Ini yang sering saya lihat dalam keseharian, saya tidak tahu bagaimana di tempat lain.
Saya selalu membayangkan bahwa hubungan golongan kuat-lemah, kaya-miskin dan sebagainya akan menjadi hubungan mutual. Namun saat ini dalam keseharian sepertinya kondisi seperti itu tidak sepenuhnya bisa diharapakan segera terjadi.
So what, kita mungkin tidak bisa mengubah dunia. Saya tidak bisa mengubah dunia, tapi saya bisa menjadi tidak sama dengan “dunia”, saya bisa berubah. Itu sebuah keyakinan meski dalam prakteknya belum sepenuhnya berhasil. Namun jika terdapat 200 orang yang bertekad untuk menjadi lebih baik, paling tidak sebuah komunitas telah berubah.
Jadi bagaimana perasaan kita tentang orang yang (jauh) lebih lemah atau miskin dari kita. Mungkin sebenarnya selalu ada hal baik yang bisa kita lakukan untuk sesama. Sebagian besar orang memberikan bantuan dari kelimpahannya. Namun jika kita mampu membantu meski dalam kekurangan, hal tersebut akan lebih terasa “hidup”. Sekarang apakah lebih mudah bagi kita untuk bersikap baik dan melayani orang kaya/ berkuasa dibandingkan dengan melayani orang miskin terlepas dari bagaimana kondisi kita sekarang.
Ada orang bijak yang berkata bahwa seandainya kita mengundang orang lemah, orang miskin, pengemis dari lorong-lorong kota ke dalam rumah kita untuk menikmati sebuah pesta, mereka akan menjadikan kita sebagai anugerah. Tidak ada satupun dari teman-teman kita, sekaya apapun mereka, dapat menjadikan kita sebagai anugerah sedemikian rupa. Orang-orang lemah/ miskin tersebut ternyata justru menyingkapkan sisi kemanusiaan dari diri kita masing-masing. Jika kita peka, hal ini akan menjadi pencerahan bagi kita.
Hmm, tapi bersikap baik dan melayani orang lemah/ miskin membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Musuh pertama yang harus ditaklukan adalah ego kita sendiri. Jika kita dengan sepenuh hati melayani seorang pejabat yang datang ke kampung kita mungkin dalam hati beliau yang terpikir adalah perasaan “sudah seharusnya seperti ini”. Tapi jika dengan sepenuh hati kita membantu saudara kita yang lebih lemah, that’s really mean something. Hal ini kemudian menjadi berkat bagi kedua belah pihak, sebagaimana tadi dikatakan, untuk sejenak akan menyingkapkan sisi kemanusiaan kita. Yang berusaha sampaikan adalah angan betapa indahnya hubungan mutual kaya-miskin, kuat-lemah dsb. Apakah ini mimpi, saya harap tidak ![]()






pasti dunia bisa damai jika si kuat dan si lemah bisa bersatu dengan melebur perbedaan.
MODE “Bijaksana” OFF
hukum alam…hukum adat..hukum rimba…
asal jangan di hukum…
menrik sekali, pak, topik mengenai si kuat dan si lemah, si kaya dan si miskin, dalam konteks masa kini ketika demokrasi demikian gencar digembar-gemborkan. sebenarnya si kuat atau si kaya itu ada dan bermakna karena ada si lemah dan si miskin. coba bayangkan kalau semuanya kuat dan kaya, lantas siapa yang menjadi si lemah dan si miskin. ini artinya, kedua “kekuatan” yang seharusnya bersinergi itu harus membentuk sebuah kemitraan yang sama2 membutuhkan. sayangnya, warisan sifat feodal kayaknya belum juga terkikis dari negeri ini sehingga si kuat atau si kaya ingin menampilkan “kekuatan”-nya di depan si lemau atau si miskin bahwa mereka itu hadir untuk menjadi orang yang harus dipuja dan disembah-sembah. walah, repot jugak!
Saat ini mungkin kasih menjadi impian mas, terlebih dengan kondisi morat-marit negeri ini . jelas Uang dan kekuasaan lebih menang ketimbang rasa kemanusiaan.
Keadaan ideal emang ketika yang kuat bisa melindungi yang lemah..cuma masalahnya sekarang ini, di keadaan yang ideal menurut manusia adalah yang kuat yang menang [hukum rimba]..entah ya..peradaban manusia mungkin emang mau disejajarkan dengan binatang..ga tau lah..
@ fetro
Nah, untuk bersatu dan melebur itu manusia harus pandai-pandai mengalahkan ego dan bukan sebaliknya. Hal ini yang seringkali sulit kita lakukan
@ Rio
He he, jangan dihukum yah
Sebenarnya telah banyak nilai di masyarakat yang bagus dalam konteks hubungan dengan sesama.
Nah, hanya karena sebagian besar nilai ini tidak memiliki penalti yang “terasa” jadi terkadang kita mengumbar ego kita.
Dalam pemahaman saya memang “jangan dihukum”, namun begitu indahnya jika semua hal timbul dengan kesadaran
@ Sawali
Kemitraan seperti yang dilukiskan pak Sawali itu yang dalam bayangan saya sangat indah rasanya. Namun seperti yang dicontohkan bapak, kita sendiri sering mengedepankan “kedagingan” kita sendiri, ego kita
@ kabarihari
Lha ya itu mas Hari, sesuatu yang kita sangka mimpi semoga bisa menjadi kenyataan. Jika kita tidak bisa mengubah dunia menjadi lebih baik, paling tidak kita bisa mengubah diri kita sendiri dulu yak
@ stey
He he, oleh karena itu seperti yang saya katakan ke mas Hari yaitu jika kita tidak bisa mengubah dunia menjadi lebih baik, paling tidak kita bisa mengubah diri kita sendiri dulu yak
saya berharap bisa jadi yang kuat…
yang punya kekuatan [dan kekuasaan] untuk menolong yang lemah sekalipun
*sok mulia
slaam kenal..
mesti digalakkan semangat memberi barangkali. si kaya ada yang selalu minta, sedangkan si miskin malah dipaksa untuk terus memberi.
power hierarchy… Hiks…
Jahhh… Saya jadi tertarik mencari kelebihan si lemah.
sebenarnya kesenjangan sosial antar si miskin dan si kaya bisa hidup damai jika si kaya mau berbagi dengan si miskin dan si miskin mau untuk menghargai si kaya tanpa adanya sifat dengki aau iri hati…
si kaya jangan semena mena terhadap si miskin
dan si miskin juga jangan dengki ma si kaya…
dalam dunia kerja…. iklim yang baik adalah adanya hubungan yang saling membutuhkan baik atasan maupun bawahannya.. atasan gak bisa semena mena terhadap bawahnnya… dan bawahannya juga seyogyanya untuk mentati peraturan yang di buat atasan…
Iya… di Indonesia kesenjangan semakin terlihat sekarang, ini yang menyebabkan terjadinya banyak kriminal. Soo sudah harusnya kita semakin lihat dan turun ke bawah dan liat teman-temen dan saudara kita. Mari kita bantu mereka
kekuasaan sering kali di gambarkan sebagai power untuk menindas,
menyedihkan dibutuhkan pengorbanan yang sangat besar dan berat untuk dapat menang dengan ego yah paklek?
tapi hubungan yang saling membutuhkan itu bisa menjadi sedikit dasar untuk sedikit bergerak kearah yang lebih baik
mudah2an bisa dilaksanakan dengan baik.

melayani orang lain?
hmmmmm
berat banget yah perasaan.
Gid… biasanya segala sesuatu itu butuh keseimbangan, indah terlihat bila ada jelek. kuat terlihat bila ada lemah. tapi kenapa ini ga bisa berjalan seiring ya? option for the poor ga mudah dilakukan, tapi harus diupayakan. bukan hanya karena sikap welas asih, more than that mestinya
@ wennyaulia
Salam kenal juga mbak Wenny
Eh, justru itu mbak, kita ndak harus menunggu jadi “orang hebar” untuk berbagi.
Namun jika dari kekurangan kita, kita bisa berbagi pasti rasanya lebih “cool”.
@ sitijenang
Dan hal seperti itu kadang bukan hanya dalam bentuk materi lho pak De. Namun
dalam berbagai bentuk yang lain, bahkan dalam perlakuan.
Mungkin sebagian dengan sengaja mempelesetkan ungkapan “ono bondho ono rupo”
@ Goenawan Lee
Dunia seperti itu yang kita tempati sekarang mas, dan saya yakin banyak dari
kita yang mengalaminya.
Nah, mencari kelebihan si lemah untuk menghargainy adalah hal bijaksana.
Namun kadang ada “si kuat” yang mencari kelebihan “si lemah” hanya untuk
kemudian diperalat bagi kepentingan pribadinya, sering terjadi mas, beneran lho
@ alfaroby
Yup, pikiran jernih dan rendah hati, mungkin itu yang kita butuhkan.
Dan karena kita tidak bisa mengubah dunia sesuai dengan keinginan kita seperti
itu, mungkin kita bisa memulai dengan merubah diri kita sendiri
@ ario dipoyono
Iya mas, mungkin maksud saya juga semacam, wong ada manusia yang sudah lemah
kok malah ditambah bebannya. Toh jika kita memperlakukan orang yang jauh lebih
lemah dari kita dengan penuh kasih, (tidak harus selalu materi) , hal itu akan
terasa menjadi berkat bagi mereka.
@ bedh
Melayani disini mungkin tidak seharusnya diartikan seperti seorang hamba yang
menyiapkan makan untuk tuannya. Namun melayani dalam artian yang lebih luas.
Seperti halnya POLISI yang sedianya memiliki motto “melindungi dan melayani”.
@ ika
He he, bener mbak Ika, segala hal memang membutuhkan keseimbangan. Namun jangan sampai kita terlena dengan hal seperti itu. Mungkin benar jika sesuatu bisa disebut kuat ketika dibandingkan dengan hal lain yang ternyata lebih lemah. Namun terlepas dari pemikiran konseptual, saya percaya bahwa manusia diciptakan “sama”. Option for the poor memang tidak mudah, seperti pemahaman saya pada paragraf terakhir. Namun jika kita belum bisa membantu (membantu lebih susah), kita memiliki pilihan untuk tidak ikut menindas (menindas lebih mudah). We can try ..
mungkin yang beginian baru ada didunia mimpi,,sangat sulit memang melihat orang2 yang menghargai dan menghormati org2 yang secara kedudukan ‘dunia’ lebih rendah daripada dia..
tapi kalo ada keinginan dan tekad kuwat untuk berubah,dunia pasti bisa berubah,,hanya tinggal manusianya saja apakah mau melakukan perubahan attitude itu,,,
wah sue ora jamu
jamu godhonk telo
sue ora ketemu
ketemu maneh nonton OB sambil makan telo
memang sanga sulit yah yg namanya “menghargai” dan “merendah hati”
padahal kalau dua itu mau diterapin..yah bukan mimpi mas kedamaian diantara si kuat dan silemah…
Doh, kapan ya pak, kita benar-benar merasa saling menghargai..
Kayaknya utopi ya??
Meski kadang dengan demikian kekuatan makna dan pesan yang ingin di sampaikan menjadi kabur, namun justru situasi sekitar menjadi lebih cair. Kalau dalam omongan theolog (hehehe…mungkin), situasi cair (kadang khaos) adalah ladang untuk kreativitas (penciptaan), muncullah kebaruan dan kesegaran… kalau mau…
Mas Sigid, MP3 Ki Hadisugito tak kirim ke mana? Tengkyu ya, ngunjungi blog-ku yang laen… Ijin, link njenengan dak centhelke nggonaku ya Mas! Siiip pokoke!
@ ika
Yup, kemauan manusianya dan itu dimulai dari diri sendiri. Jika setiap orang merubah diri sendiri menjadi lebih baik, secara otomatis dunia akan berubah menjadi lebih baik.
@ baliazura
He he, mas Parto mbok bagi-bagi telo-ne to
@ verlita
. Paling ndak jika diri sendiri bisa berubah menjadi lebih baik, satu mimpi menjadi kenyataan
Seperti mimpi tapi semoga bukan menjadi mimpi semata
@ qzink666
Semoga bukan utopi mas.
Paling ndak jika kita dan keluarga kita saling menghargai, utopi tersebut menjadi kenyataan dalam skala yang kecil paling tidak.
@ Kandar Ag.
He he, justru menimbulkan inspirasi ya mas. Banyak pujangga justru mendapatkan inspirasi dari hal seperti itu juga yak. Namun kadang juga mbikin sebel je mas.
Apalagi jika kita dipaksa menandatangani sebuah pernyataan bila kita telah menerima sesuatu yang menjadi hak kita, namun sebenarnya belum kita terima
Eh mas, nuwun sewu, mas kandar menika wonten Pondok Kelapa njih.
Anu, menawai saget, dalem dipun paringi alamat email mawon supados langkung sekeca gunemanipun.
Hayah, nek menawi namung nyantolke blogroll mboten perlu ngendika rumiyin mboten napa-napa kok. Lha rak kulo sakniki malah nyantolke banner Born Javanese. Mboten napa-napa njih.
Yang kaya makin kaya
Yang miskin makin miskin
*Rhoma Irama Mode On*
Wah, banner-ku wis ketok! Maturnuwun Mas Sigid! Bisa…bisa…alamat e-mail saya ada di komentar ini kok: ag.sukandar at gmail dot com, atau: sukandar_ag at yahoo dot com.
Hehehe…Iya, kula wonten ing Pondok Kelapa, dados setunggal kalihan FraterTelo.
Mau maen?
setju banget tuh… memulai sesuatu tuh mending di mulai dari diri kita sendiri…
Kak… klo lagi ngada’in pesta, jangan lupa undang orang lemah seperti aku ini. Biar aku tau, gimana rasanya makanan orang2 yg berduit.

*hmmmm…. ngebayangin*
@ indra1082
Hi hi, kadang hal seperti itu tidak hanya terjadi dalam aspek materi saja je mas
@ mas Kandar
Eh, dalem sampun kontak suwawi email
@ alfaroby
Iya mas, kalau tiap orang merubah diri sendiri kan ndak perlu mengubah orang lain kali yak
@ Dwi
Wah, ngece …
Lha wong saya itu makan-nya nasi separo di warteg je.
Ck, ck, pesta ya? Seperti minum teh pakai gula batu + gorengan gitu yak.
*diguyur teh*
Keterbebanan, kepekaan dan kepedulian sampeyan terhadap yang terpinggirkan alias marginilized sampeyan mirip sekali dengan gaya St. Lukas …. salut!
Ini sebagai kunjungan balasan mas Sigid yang bbrp kali mampir ttp saya hanya sekali2. Maklum mas boss ku galak spt yang di OB itu, baru click wordpress saja dia sudah melotot he-he-he.
Tabek!
Waaaw, St. Lukas adalah orang hebat, saya hanya orang biasa

Wah, bosnya juga galak to pak de.
Kadang saya lihat orang yang sering marah itu kasihan, kok mereka ndak tampak bahagia yah
sayangnya banyak mekanisme di negeri ini yang membuat “si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin, si kuat makin kuat, si mlarat tambah mlarat”………….tapi aku salut dengan refleksi sampeyan lho mas, dalem ki………
Kalo aku bilang sih mulailah dengan prinsip “Just do it”.
Apa yang bisa kita berikan, “Just do it”, jangan maju-mundur atau sibuk kalkulasi sehingga nggak pernah terlaksana.
Lagi pula, pemberian itu kan tidak selalu mesti berupa materi bos. Aku pernah “berderma” kepada orang kaya selama bertahun-tahun. Tahu nggak apa yang aku sumbangkan kepada orang itu, yang rumahnya seperti istana di Permata Hijau ? Cuma kesediaan mendengar. Cuma itu, tapi ternyata sangat berarti baginya, dan bahkan pernah menyelamatkannya dari niat bunuh diri.
Salam.
Kalo aku bilang sih mulailah dengan prinsip “Just do it”.
Apa yang bisa kita berikan, “Just do it”, jangan maju-mundur atau sibuk kalkulasi sehingga nggak pernah terlaksana.
Lagi pula, pemberian itu kan tidak selalu mesti berupa materi bos. Aku pernah “berderma” kepada orang kaya selama bertahun-tahun. Tahu nggak apa yang aku sumbangkan kepada orang itu, yang rumahnya seperti istana di Permata Hijau ? Cuma kesediaan mendengar. Cuma itu, tapi ternyata sangat berarti baginya, dan bahkan pernah menyelamatkannya dari niat bunuh diri.
Salam.
@ FraterTelo
Lha ya itu om Edy, kita sebenarnya diberi “pilihan” untuk paling tidak berusaha menjadi tidak sama dengan dunia.
@ tobadreams
Benar sekali Bang.
Oleh karena itu saya menekankan tentang “bersikap baik dan melayani orang lemah/ miskin”. Dan yang dilakukan Bang Raja Huta itu benar-benar salah satu contoh bagus, melayani orang yang sedang lemah ketika mereka membutuhkan.
kalau kita mau berpikir jernih, sebetulnya alam semesta ini diciptakan dalam sebuah keseimbangan yang sempurna. Lemah-kuat, kaya-miskin, besar-kecil, panjang-pendek, surga-neraka.
semua perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, tapi justru untuk saling melengkapi. Apa jadinya jika semua manusia kaya, apa jadinya kalau tidak ada yang mau jadi buruh, tapi mau jadi bos semua. lha yang kerja siapa?
tapi, terkadang orang mau menang sendiri, memilih jadi kaya, milih jadi yang ter…
terima kasih, posting yang menarik..
“berusaha menjadi Tidak Sama dengan dunia”
menurut NOPAS KAS, yaitu “jangan melawan arus, jangan terbawa arus, namun berenanglah di arus”.
Betul banget. Perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri.
Salam.
@ sandemorning
Hi hi, bener memang, hidup ini juga masalah keseimbangan.
Oleh karena itu, dalam bayangan saya, hubungan kuat-lemah/ kaya-miskin akan sangat indah jika menjadi suatu hubungan mutual.
Benar jika dikatakan bahwa hidup tidak akan seimbang jika semua orang kaya, atau semua orang miskin. Dan sayapun tidak pernah membayangkan hal seperti itu.
Jadi, hubungan mutual antar keduanya akan sangat terasa menarik
@ FraterTelo
Berenang di Arus …
Hi hi, ini sebuah ungkapan baru bagi saya.
Matur nuwun Frater
@ mas Dewo
Iya mas, jika setiap orang merubah diri sendiri menjadi lebih baik, logikanya tidak ada orang yang perlu mengubah orang lain