Dalam keseharian, secara sadar maupun tidak sadar kita seringkali memilah-milah perkara menjadi hal besar dan hal kecil menurut ukuran kita. Dalam kesempatan selanjutnya, kita akan membuat skala prioritas untuk hal yang kita lakukan. Dalam kondisi normal, hal yang tampak kecil atau sepele akan menjadi prioritas utama dan segala suberdaya kita akan kita berikan untuk itu.
Namun apakah yang sebenarnya disebut sebagai perkara kecil dan apakah yang disebut sebagai perkara besar. Bagaimana jika ternyata hal kecil yang kita lakukan hari ini sebenarnya merupakan hal yang sangat besar.
Ada sebuah contoh praktis yang saya tidak ingat benar darimana sumbernya, hal ini saya baca beberapa tahun lalu, mungkin dari odb. Pernahkan jika pada suatu siang kita dengan susah payah mengantar seseorang menemukan alamat rumah di kota tempat kita tinggal. Orang yang baru saja kita temui, kita tidak tahu nama dan alamatnya, dan hampir dipastikan setelah itu tidak akan bertemu lagi. Dengan segala upaya kita mengantarkan dia hingga ditemukan alamat yang dituju. Kita lalu pamit dan setelah itu kita pulang dan tidak pernah mengingat atau memikirkannya lagi.
Sama seperti ketika beberapa anak SMA menolong bapak saya ketika terjadi kecelakaan di tahun 2003. Mereka mengobatinya, membetulkan motornya, membawanya ke rumah kerabat terdekat dan memastikan dia dirawat. Setelah itu mereka pamit dan sampai sekarang saya bahkan tidak tahu nama atau wajah mereka.
Dalam konteks prioritas, apakah sebaiknya kita sebut tindakan tadi, apakah hal itu perkara kecil ataukah perkara besar. Dalam kenyataannya, kejadian tadi bahkan mungkin tidak pernah dipikirkan lagi. Bagaimana dengan kesetiaan, setia dalam perkara kecil merupakan salah satu ungkapan terkenal. Namun melakukannya tidak akan semudah mengucapkan. Dalam gambaran di atas, perkara kecil yang kita lakukan ternyata menjadi sebuah hal yang besar bagi orang lain.
Jika kadang kita berpikir telah menang melawan setan karena tidak minum alkohol, tidak mengkonsumsi narkoba, tidak langganan Hustler
, tidak korupsi dan hal “wah” lainnya, mungkin kita harus lebih jeli melihatnya. Karena seringkali karena kita terlalu memperhatikan “perkara besar” setan menjatuhkan kita lewat “perkara kecil”. Lewat hal yang kita anggap remeh, bahkan untuk menjadi bahan pembicaraan. Asumsikan saja kalau setan itu licik.
Dalam suatu kejadian, seorang suami pulang setelah berkerja seharian. Ketika ia berada di depan rumahnya, anak-anak kecil yang bermain ternyata menumpahkan tempat sampahnya. Secara instant, hal itu membuatnya marah. Dia berpikir bahwa setelah seharian penuh ia bekerja keras untuk menghidupi keluarga, belum lagi kegiatan sosial yang cukup menyita tenaga, hal terakhir yang ingin di lihat adalah menemukan rumahnya acak-acakan. Dia capek, jangan ditambah dengan hal seperti itu. Dia benar-benar marah.
Apa yang salah dengan gambaran ini, setelah seharian dia mencoba setia dengan perkara besar dia terpeleset dengan hal “remeh” yang tidak pernah ia pikirkan. Seharian ia bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh, ia juga membantu sesama dengan tanpa mengharap imbalan, dia cukup senang jika melihat orang lain yang dia bantu menjadi lebih baik. Namun karena sebuah hal kecil, dia mengacaukan “persembahan” dia kepada Tuhan dengan kasus tadi. Pikiran akan sangat mudah mencari pembenaran; lha wong saya itu capek banget kok, lha wong kesabaran itu ada batasnya, dan “lha wong” yang lain. Memang dikatakan bahwa manusia tidak ada yang sempurna, namun setia dalam perkara kecil adalah sebuah hal menakjubkan untuk menjembataninya. Jika ada yang sudah setia dalam perkara-perkara besar, sayang sekali jika dia harus jatuh oleh perkara kecil. Hal seperti ini seringkali terjadi dan ketika kita menjadi saksi, rasanya seakan tidak terima, sayang sekali.
Bagaimana dengan saya, jelas, … saya sering jatuh …
. Tidak hanya perkara kecil, juga perkara besar. Bagaimana kalau kita sama-sama mencoba setia dalam segala hal ya, perkara kecil maupun besar. Sepertinya menarik, Selamat Paskah ….![]()






Leres mas Sigid cen menarik postingannya ini, seperti membaca surat gembala saja
mestinya tulisan ini pantes di jadikan refleksi paskah kemarin mas..
manteb..manteb
Sugeng Paskah mas Sigid.
daripada ora komen :D)
(sory yo mas ngga iso komen serius
Selamat Paskah
*nyodorin kresek njaluk endok*
membicarakan hal yang kecil dan yang besar sepertinya kembali lagi pada individu yang bersangkutan, sejauh mana ia tetap ‘eling’.
mas sigid… lebih baik jatuh dalam perkara kecil tapi setia dalam perkara besar
atau jatuh dalam perkara besar tapi setia dalam perkara kecil???
atau ga bisa dipilih semua
hehehhe… setia dalam perkara kecil juga susah lo mas
sugeng paskah nggih…
Mbok minum alkohol dikeluarkan dari daftar..
Dapat telor banyak kemarin nggak gid?
Iyah, justru ketika mulai meremehkan, maka semakin rawan kita jatuh di situ. Maka waspadalah! waspadalah!
selamat paskah pak sigid,,iya mari bersama2 mencoba setia dalam perkara kecil dan besar,,seperti laguna krisdayanti ini: “..cobalah untuk setiaaaa…”
@ kabarihari
Sugeng paskah mas Hari ……
@ baliazura
Matur nuwun mas Parto, Sugeng Paskah …
Lha yang dapet telor kemarin cuma nak-anak je, mau saya rebut tapi malu
Leres, “ing jaman edan” lebih beruntung yang “eling lan waspada”
@ mbak Ika
Njih, Sugeng Paskah …
He he, sepertinya ndak enak dua-dua nya nggih mbak.
Itu di atas uneg-uneg ketika melihat orang baik yang tergelincir “perkara kecil”.
Kayaknya kok sayang yah
@ riwariwi
Ha mesti kuwi mesti penjaluk seng tendensius to
@ danalingga
Nyepi dikampung pak de
Iya Bang Napi ….. waspadalah ….
@ Ika koolsonic
Sugeng Paskah mbak Ika, mbok saya jangan dipanggil pak to … he he
Lha wong masih youth gini kok
ada ungkapan, jangan membiasakan diri membesar-besarkan perkara yang kecil atau sebaliknya, mengecilkan perkara besar. *halah sok tahu nih* ungkapan ini setidaknya memberikan pelajaran berharga buat kita bahwa perkara apa pun mesti dapat kita pilah2 secara proporsional sehingga kita tidak terjebak ke dalam lingkaran permasalahan itu sendiri. saya kira kita akan selalu berurusan dengan segala macam perkara, pak sigid. yang perlu kita lakukan adalah memanage-nya agar semua perkara itu bisa terselesaikan dengan baik sesuai proporsinya. *maaf kalau sok tahu nih, pak, hehehehe
* yups, selamat paskah, pak!
Perlu iman yang kuat :-))
saya ngaku..
saya ga setia dalam perkara kecil, apalagi yang besar..
selamat paskah juga..
@ pak Sawali
matur nuwun pak Sawali. He he, jadi ingat quote kalau “ing jaman edan” masih lebih beruntung manusia yang selalu “eling lan waspada”. Mungkin ini bahasa inggrisnya Awareness njih pak
@ Indonesia Today
Eh, bagaimana kalau justru dibalik?
Setia dalam perkara kecil menjadi latihan untuk memiliki iman yang kuat
He he ….
@ stey
Makasih, selamat Paskah …
Ehm, …. mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa …
Selamat Paskah juga…
~salam kenal…
menarik-menarik.. memang orang itu jatuh karena batu kecil.
hai..kunjungan balik nih…
emang bener deh, kadang kita malah jatuh hanya karena hal yg kita anggap sepele. jd kayaknya agak susah jg mendefinisakan hal sepele dan yg tidak.hehe
ah yg penting selalu jaga diri aja kali ya.. berusaha menjadi manusia yg baik..hihii
salam kenal
Marah itu hal yg biasa pren, asal jgn sampe berakibat pd efek psikologis si anak. Apalagi sampe melakukan tindakan kekerasan dgn kontak fisik. Rasanya gue lebih milih marah pada anak sendiri krn memang sebuah kesalahan yg dilakukannya ketimbang ngasi makan anak gue itu dengan duit haram hasil korupsi. Gue yakin itu akan jauh lebih merusak dia.
btw, lam kenal ya
Dengan perkara kecil saja suka terlewatkan,..
Dengan perkara besar malas menghadapi apalagi memikirkan..
Tapi apa salahnya ya, mas … kita latih dengan yang kecil dulu..
Selamat Paskah..
(kalau pulang kampung, mbok ngasih tahu..
jadi kalo bawa oleh2, biar ku jemput di Palmerah..hehehe)
@ Charles
Selamat Paskah …
*salaman*
@ Sir Spitod
Batu kecil dan kadang batu yang kelihatannya kecil …
@ ratna
Betul itu mbak, kadang kala hal yang kita anggap kecil justru merupakan hal besar. Setia dalam segala hal, itu yang terbaik.
Namun itu berat ….
tapi layak untuk dilakukan.
@ Tigis
He he, orang marah itu biasanya tidak bisa berpikir jernih.
Dalam hal ini yang ditekankan adalah menjaga hati dalam berbagai hal, ada hal-hal yang kita nggap sepele/ remeh namun kadang justru merupakan hal yang penting dan sebaliknya. Setia dalam perkara besar e.g. korupsi itu hal yang sangat bagus, namun jangan sampai hati dan pikiran kita tertutup oleh “kacamata” itu sehingga tidak bisa melihat hal lain yang mungkin tidak kalah penting.
Salam kenalan …
@ puak

Wah, kok sama to mbak
Saya sering jatuh dalam banyak hal je ….
Selamat Paskah ….
Kalao pengin dibawain sesuatu dari kampung bisa, bisa …
Ada satu hal yang saya ndak suka sama Mario Teguh. Dia selalu bilang supaya kita mengerjakan perkara2 besar2 dulu. Dengan mengerjakan hal yang besar, kata beliau kita bisa mendapat hasil yang besar pula. Gaji besar, Mobil besar, Rumah besar, Pangkat besar dll. Tapi kalo menurut saya, perkara2 kecil’lah yang lebih banyak membuat hidup kita jadi “lebih berwarna”. Nganterin istri ke pasar, nyeritain dongeng ke anak kalo mau tidur, nggantiin si mbak nyuciin piring dst. Selamat paskah juga mas Sigid.
@ ardians
Mario Teguh yang sering kasih konsultasi itu ya mas.
Lha ya itu mas, salah satu yang berusaha saya sampaikan lewat contoh “mengantar orang mencari alamat” di atas.
Bagaimana jika hal-hal tampak remeh yang kita lakukan ternyata merupakan hal yang besar.
Mungkin saja “nyertain dongeng ke anak” sebenarnya jauh lebih penting daripada nyari lemburan
-Sugeng Paskah mas Ardians-
Lha memang Mas Sigid sudah bisa membayangkan bagaimana “ndongeng buat anak” itu ?? Salam CB
huhuhuhu
seringkali manusia nggak memandang masalah kecil, tapi masalah besar malah membutakannya.
seperti biasa postingan yang mencerahkan paklek.

di dunia ini ada 2 jalan, jalan yang lebar dan jalan yang sempit..
mana yang anda pilih ??
sama halnya dengan perkara, ada perkara kecil dan besar, Tuhan adil dan itu adalah proses pendewasaan kita dalam kristen
Salam
Salam kenal.
Selamat paskah. Mengenali diri itu awal yang baik untuk terus berubah. Terus maju, Tuhan memberkati.
@ cbodho
Wah, ndak usah mbayangkan Om, makanya saya nanya ke mas Ardians kalau
Nyuwun pengestunipun Om biar lekas bisa praktek sendiri
@ bedh
Iya, kadang seperti itu, karena masalah “kecil” biasanya dianggap remeh
@ Okta Sitohang
Dan salah satu arti menjadi dewasa mungkin adalah “setia” dalam berbagai hal ya pak
@ imankristen
Iya pak, untuk berubah menjadi lebih baik
saya pikir semua peristiwa hidup adalah sebuah perkara besar karena di situ Allah selalu berkarya. Berkah dalem (MP lagi diblokir ya mas?)
Lha, leres menika om Edy, setuju …

Eh, MP ndak diblokir kan mas, kalau di tempat saya kadang ada beberapa website yang diblokir tapi bukan oleh DEPKOMINFO tapi oleh mas Admin, untuk tujuan baik saya rasa
Wadhuuuuh… ngomong-ngomong soal kesetiaan, aku bisa-bisa no-comment kiye…
Sugeng Paskah wae lah…meski telat.
Mas Sigid, kapan bisa ketemu di Leo Agung nih?
wah keren bro, sorry telat baru baca postingan yang ini, ini sebuah penyadar-an akan ke-kurang-an kita yang sering kali kita amin-kan, bahkan cenderung kita lupa-kan
Ya ya ya….
Mencoba untuk setia…
Aku juga pengen jadi manusia yg setia, hehe…
@ mas Kandar
He he, Sugeng Paskah mas, mboten to nek telat …..
@ extremusmilitis
Karena sesuatu yang tampak kecil sering begitu mudahnya diabaikan.
Namun, apa yang tampak kecil, kadang bisa merupakan sesuatu yang besar.
Atau kadang, sesuatu yang mungkin memang kecil menjadi suatu sebab timbulnya sebuah hal besar.
@ dwi
Ha, mari sama-sama berusaha …
Pertamax berkunjung kesini. Salam kenal ma yang punya blog…
Jatuh dalam perkara kecil itu hal yang biasa dan manusiawi. Asal ngak jatuh lagi dan jatuh lagi dan jatuh lagi di lubang yang sama berkali-kali. Karena kalo hal itu terjadi Tuhan akan marah dan kita akan dianggap keledai
Semangat mas!!
@ Adieska
Wah, salam juga
He he, masalahnya kadang perkara yang tampak kecil ternyata merupakan sesuatu yang besar atau kadang bisa berkembang menjadi perkara yang besar
@ Ona
Setuju mbak Ona …. mari bersemangat
seseorang seringkali meremehkan hal-hal kecil.
pikirnya, hal-hal kecil itu nggak akan ada artinya…
seakan diya lupa bahwa lidi yg rapuh itu, kalok digabung dan diikat menjadi satu kan jadi kuwat,
seperti sebuwah lubang yg dibiyarkan menganga di jalan raya, pikir orang/ petugas yg bertanggung jawab, halaah cuman satu lubang githu aja, tunggu anggaran brikutnya lah, biyar sekaliyan ngerjainnya,
diya nggak akan pernah berpikir jika suwatu hari seseorang lewat di jalan tsb, dan terjebak jatuh bahkan mungkin meregang nyawa gara2 lubang menganga tsb…
bisa jadi itu adalah seorang bapak yg menjadi tulang punggung kluwarganya, bisa jadi itu adalah seorang pemuda yg hampir lulus kuliyah dan siyap membalas segala budi baik orang tuwanya, bisa jadi itu adalah seorang dokter yg membaktikan keahliyannya bagi kaum papa, bisa jadi itu adalah sophan sophiaan yg merupakah salah satu tokoh bangsa, bisa jadi siyapa aja… kita nggak akan pernah tau, dan jika itu terjadi…. niscaya itu bukan hal kecil lagi…
Lha, bener to mas …
Kadang hal-hal yang tampak kecil ternyata merupakan hal yang besar
Memang mungkin yang terbaik adalah setia dalam segala hal, tapi jelas-jelas itu akan merupakan hal yang membutuhkan perjuangan …
menurutku si hal itu ud jadi makanan sehari2… jadi cobaan tetap terus ada broo…
biasanya kita makin yakin kalo udah tua…. B I A S A N Y A
jadi masih muda tetap bergumul ..
masa muda adalah masa yang paling indah
Gbu bro
@ Hotlas
Haa, lha itu bro …
Jika kita memprediksi bahwa hal bijaksana akan tejadi ketika kita tua dan hal itu dengan perjuangan mungkin saja bisa terjadi sekarang, kenapa harus menunggu
Lha jika ada yang berpikir jika “hidup damai” biasanya terjadi ketika kita tua, mungkin itu ndak benar juga yah, he he
Saya ingin hidup saya damai, sekarang juga, bukan kelak
Dan setia dalam segala perkara adalah jembatan, namun hal itu adalah jembatan yang membutuhkan perjuangan yang berat.
Tapi …. layak diperjuangkan