Ada sebuah pepatah dalam bahasa latin yang bunyinya “Sic Transit Gloria Mundi” atau secara umum bisa dipahami sebagai “Kemuliaan Duniawi Begitu Cepat Berlalu”. Menakjubkan melihat kekuatan “kemuliaan duniawi” dalam mempergaruhi pikiran, perkataan dan perbuatan seseorang. Jadi, apakah yang sebenarnya disebut sebagai “kemuliaan duniawi”, apakah itu uang, jabatan, kekuasaan, dan semacamnya.
Sebagian orang mungkin menganggap kekayaan dan kekuasaan merupakan “kemuliaan duniawi”. Seringkali timbul pertanyaan, apakah yang sebenarnya diberikan oleh kekayaan dan kekuasaan itu. Ada yang bilang bahwa uang bisa membeli seks namun tidak bisa membeli cinta, uang bisa membeli “teman” tidak pernah bisa membeli persahabatan sejati. Akankah kekayaan dan kekuasaan memberikan keamanan, kebahagiaan atau bahkan kedamaian sejati?
Hari ini (sebenarnya kemarin
) saya bertemu dengan seorang sahabat lama, teman seperjuangan ketika masih kuliah. Sudah lebih dari dua tahun kami tidak bertemu sehingga hari ini banyak sekali memori yang muncul dari masa lalu. Kami berdua waktu itu adalah teman satu kamar kost yang sama-sama diberi anugerah oleh Tuhan untuk dapat membagi waktu antara bekerja dan kuliah.
Telah beberapa tahun dia mengikuti sebuah eM eL eM yang menghasilkan banyak uang bagi dia. Bagi orang yang tidak mengenalnya, akan sulit mengira bahwa lima atau delapan tahun yang lalu dia pernah bekerja part-time di dapur sebuah hotel untuk mendapatkan insentif bagi biaya kuliahnya. Sebagai teman, kita pernah sama-sama berjuang dengan cara kami masing-masing, dan tentunya setelah sekarang dia mapan juga ingin melihat saya “berhasil”. Dia kemudian mulai menerangkan tentang “keamanan finansial”, bagaimana manusia bisa mendapatkan penghasilan melimpah, kebebasan keuangan, pensiun dini dan memiliki banyak waktu bagi keluarga karena bagi keluarga yang terpenting bukan uang. Narasi itu menggambarkan tentang kehidupan manusia yang “indah” karena memiliki jaminan keuangan. Dengan pola pasar eM eL eM, saya tidak menolak jika dikatakan bahwa orang bisa menjadi kaya karenanya. Secara logika, itu sangat mungkin.
Namun entah kenapa, hari ini saya masih saja tidak tertarik seperti halnya beberapa tahun lalu ketika saya mendengar hal yang sama. Apa yang salah dari gambaran ini? Apakah uang melimpah tidak menarik? Benar adanya jika dikatakan bahwa bagi keluarga, hal yang terpenting bukanlah uang, namun kenapa sejak tadi kita membicarakan tentang uang.
Hmm, mungkinkah banyak kawan di luar sana yang berpikir bahwa ingin memiliki kekayaan namun bukan dengan hal seperti itu.
Terlepas dari itu, saya telah melewati banyak hal dan juga melihat dia melewati banyak masa sulit. Sedikit banyak itu membentuk keyakinan seseorang dan yang saya yakini bahwa kehidupan ini dijamin oleh Sang Pembuat Kehidupan. Saya memiliki penghasilan yang menurut saya cukup meski sebagian orang menganggapnya kurang. Tuhan mencukupkan kita, itu yang selalu saya tanamkan di pikiran ini. Mungkin kita tidak selalu menerima apa yang kita inginkan namun kita selalu dicukupkan. Terlontar pertanyaan kepada saya, “Coba bayangkan, lebih enak mana, naik mobil atau naik motor?” Spontan saya jawab, “Di Jakarta, naik motor tampak lebih enak
. Phew … , jika hari ini saya tidak memiliki mobil, dalam pikiran saya, mungkin belum saatnya. Waktu yang Dia berikan adalah misteri, kadang seperti bayangan kita namun kadang tidak.
Saya masih dua puluh delapan tahun hari ini. Namun jika saya melihat ke masa lalu dan menyadari bahwa hari ini saya masih hidup dengan baik, saya katakan itu adalah mukjizat. Dan selama itu pula bukan “kemuliaan duniawi” yang saya rasa menjamin kehidupan kami. We didn’t have that kind insurance, but we do have “Heaven Insurance”. Saya melihat banyak orang yang memusatkan segala pikiran dan sumber daya yang ia miliki untuk mendapatkan “kemuliaan duniawi” karena menganggap kemuliaan tersebut memberikan keamanan dan kenyamanan. Namun kehidupan jauh lebih besar daripada itu saya rasa dan beberapa lembar uang yang kita berikan ke tempat ibadah tidak lantas membuat kita dekat dengan Surga.
Tulisan ini sebenarnya sama sekali tidak menitikberatkan kepada masalah eM eL eM dan terlepas dari masalah itu, dikatakan bahwa jasmani (daging) itu lemah. Jadi, terlepas dari manusia memang membutuhkan keduniawian, apakah “kemuliaan” tadi telah menghalangi mata kita untuk melihat warna kehidupan yang lain. Atau lebih jauh, apakah “duniawi” telah merebut orientasi pikiran manusia dari “kedamaian sejati”. Semoga tidak ….






Uang memang jelas bukan segala-galanya mas, tapi ngga bisa di pungkiri juga kalo segala sesuatu di dunia ini butuh uang.
Buat saya sekarang ini yang penting sih, bagaimana merencanakan keuangan kita.
“Ada masa panen ada juga masa paceklik”, jika di masa panen sebagian hasilnya disimpan, suatu saat jika masa paceklik melanda kita telah siap menghadapinya.
Mmm…ganti suasana dengan theme yang baru juga ya? siplah
Hahaha.. buingunkk.. 0_o!
Pak Sigid, kemuliaan duniawi sering membikin kita “menghalalkan segala cara” jika itu menjadi satu2nya tujuan hidup. apalagi, suasana di lingkungan sekitar kita sudah demikian sarat dg berbagai pola dan gaya hidup materialistis dan hedonistis. sering tanpa disadari *sok tahu ya pak* hal itu membikin kita seperti machiavelli. padahal ranggawarsita pernah berujar: “beja2ne wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada”. semoga saja kita tak terjebak ke dalam kemuliaan duniawi semata, amiin.
numpang OOT, pak. theme mistylook-nya kelihatan lebih cocok dan nyaman utk blog pak sigid ini. tampilannya menarik.
selalu saja kemuliaan di atas bumi ini dianggap memiliki korelasi langsung dengan finansial. semakin kaya, semakin mulia dia. mungkin inilah salah satu faktor pendorong ngrembokonya korupsi. padahal, kekayaan yang diperoleh dengan jalan yang tidak mulia, tidaklah akan mendatangkan kedamaian.
Tulisan ini seolah menyadarkan saya buat apa sih ngotot mengejar kemilau duniawi itu. Makasih. Mungkin memang saatnya mulai bersyukur akan apa yang telah saya punya.
@ mas Hari
Betul sekali mas, karena manusia terdiri dari “roh dan daging”, tidak dipungkiri jika kita membutuhkan keduniawian. Saya juga butuh lho mas,
, saya juga nabung lho.
Yang berusaha saya sampaikan, apakah hal yang ditawarkan “daging” tersebut telah menyerap segala perhatian, pikiran dan sumber daya kita sehingga dalam banyak hal, hanya kemuliaan tersebut yang memenuhi pikiran, perkataan dan perbuatan kita.
Secara lahir berkata “saya mengikuti Tuhan karena Dialah keselamatan”, namun pikirannya mengatakan bahwa “I’ll be save if I have lots money and more money.”
@ Ona
Waduh, mbok jangan bingung to
Hanya masalah keseharian kok mbak.
@ pak Sawali
Njih pak, mungkin hal itu juga timbul karena persepsi bahwa kehidupan dijamin oleh material dan benar kata bapak, secara sadar atau tidak sadar, kadang hal tersebut sudah menjadi tujuan hidup.
Ketika beberapa kali saya “diprospek” MLM, mereka seakan memberikan gambaran jika kehidupan yang saya miliki sekarang itu menyedihkan dan dengan bergabung, kehidupan saya akan “indah” karena dijamin oleh kebebasan finansial.
@ Nayantaka
Njih pak Dee, pemahaman manusia tentang kedamaian sejati sering begeser kepada kekayaan, sesuatu yang disebut pak Sawali materialis dan hedonis.
Kita tidak akan menolak dan pasti senang ketika Sang Pembuat kehidupan mempercayakan kepada kita kekayaan. Namun rasanya tidak tepat jika pencapaian itu kemudian menyerap segala pikiran dan sumber daya kita sehingga hanya itulah ayang ada dalam kepala kita.
@ Danalingga
Mungkin seperti yang saya sebutkan tadi bro, banyak kalangan seakan memberikan gambaran jika kehidupan yang sebagian orang miliki sekarang itu menyedihkan dan dengan memiliki keuangan yang melimpah hidup ini akan indah.

Saya tidak merasa menyedihkan kok
Okay, saya juga membutuhkan uang, namun saya rasa saya tidak akan memenuhi pikiran saya pada pagi, siang, sore dan malam dengan hal tadi
Dunia hanya sementara…
Ngoyo2… nyari duniawi… buat apa…
kita harus dan wajib berusaha mencari nafkah dunia…
tapi tetap tujuan awal yo akhirat…
BETHUL??
kalau pengagum Anthony de Mello pasti tahu.
Just enjoy the present moment!
semua orang memiliki pusat hidup masing-masing. dan diantaranya ada yang memusatkannya pada uang. fine!
Memang uang bukan segalanya tapi di dunia segalanya bisa diperoleh dengan uang ( wah ga usah ditiru sesat nich ) he…he…
Saya pernah jengkel sama temen yang pernah “menculik” saya ke pertemuan motivasi MLM yang dia ikuti *awas kalo ketemu, tak sobek-sobek*. Tambah jengkel lagi waktu motivatornya bilang, “Lebih baik banyak masalah karena kaya, daripada banyak masalah karena miskin”.
Bukan karena saya waktu itu nahan lapar karena belum makan *kiriman dari kampung belum datang*, tapi saya bingung sama filosofi dan tujuan hidup sang motivator. Yang jelas, saya ndak tertarik join ke MLM model apapun. Lagipula, saya pasti ndak bisa gathuk dengan orang-orang yang memberhalakan kemuliaan duniawi seperti ini…
Analoginya juga sama dengan slogan dari sebuah
Bimbingan Belajar. SUKSES=INGGRIS+MATEMATIKA.
Walaupun saya dan anak saya ndak pinter Inggris dan Matematika, alias ndak sukses, bapak saya tetep nganggep saya anaknya kok. Anak saya juga tetep saya anggep sebagai anak saya (Kompas, rubriknya Samuel Mulia, tanggal ?).
Doa saya, semoga Tuhan memberikan hikmat bagi orang-orang yang meninggikan kemuliaan duniawi di atas segala-galanya…
Sori, kepanjangan. Jengkel ki mas. Daripada malah jadi jerawat tho
@ indra
Nah, betool mas, mungkin kita memang butuh keduniawian tapi jangan sampai hal itu mengontrol pribadi kita
@ FraterTelo
Lha itu om Edy, De Mello mengajak kita untuk belajar “melihat dunia” dan untuk tidak diikat oleh “kelekatan”.
Angel ya …
@ Pujangga
Waaa ….
Itu seperti teman-teman MLM bilang, menurut mereka “Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.”
Weleh, weleh …..
@ ardians

Lhah, yang saya ceritakan di atas itu saya hampir keculik juga lho mas
Untuk saya sigap (hop .. hop .. hop)
Yang ndak enak di dengar itu kalau kita dipresentasi oleh kawan kita dari MLM dengan gambaran bahwa hidup kita sekarang itu menyedihkan dan dengan bergabung akan menjadi indah.
Wah, wah, saya tidak menyedihkan je
dunia ini fana…
masih tidur aja bro????
dunia oh dunia……!!!
manusia juga bukan makhluk yang sempurna khan?
@ hanggadamai
Hi hi, iya, salah satu hal yang pasti di kehidupan ini adalah kematian yah.
Terus gimana yah
*garuk-garuk kepala*
@ kabarihari
Weh, iki udah kucek-kucek mata
@ HILMAN
He he
@ Elys Welt
Iya sih mbak …
He he, tap imaksudnya gimana yah
Saya prcaya Tuhan udah kasi porsi rjeki masing2.btw salam kenal
hmmmm.. kalo saya sih pengennya duniawi dan jaminan surga seimbang Pak,… masih proses belajar sih, tapi insya allah saya bisa.. hehehe
hehe iya bro,saya yang dari semarang…btw blogwalking dari hape emang ga bisa ngeliatin url na,,kirain sigid yang laen,,hehehehe
ya..ya…ya….
@ Ika, @ Chic, @ Pujangga
Aduh, maaf baru bisa balas.
Sebulan-nan ini kondisinya tidak memungkinkan untuk blogwalking
Sebenarnya yang ingin saya sampaikan mungkin “keseimbangan” seperti kata Chic, bahwa manusia mungkin tidak bisa selalu mengandalkan kekuatan sendiri.
Kadang ketika kita mengagungkan kekuatan sendiri, kita sering kali melupakan kekuatan “Sang Pembuat kehidupan”.
… Sebagian orang mungkin menganggap kekayaan dan kekuasaan merupakan “kemuliaan duniawi”. Seringkali timbul pertanyaan, apakah yang sebenarnya diberikan oleh kekayaan dan kekuasaan itu …
Pertanyaan besar yang hanya bisa dijawab dengan perenungan dalam dan … jawabannya ada di lubuk hati kita masing-masing. Trims, menggugah.
cukup menginspirasi. thanks:)
@ Ersis Warmansyah Abbas, @ mia zuhara
Terima kasih buanyak karena telah berkenan membaca …
Uang lagi-lagi uang!!!
Dulu aku pernah ngikuti nafsu ngejar uang, biasakan masih hidup di Jakarta. Tapi koq ngos-ngosan malah pada sesak napas.
Sekarang hidup nyantai, sedapatnya. Koq, ya malah hidup tenang. Koq semuanya juga bisa didapat. Hidup senang, bahagia, kesehatan ok, tiap hari tertawa bersama anak.
Salam kenal.
@ Juliach
Wah, sebenarnya perasaan pengin mendapatkan lebih itu sering muncul mbak, sepertinya banyak kebutuhan saya yang belum terpenuhi. Muncul pikiran bahwa jika semua kebutuhan dalam angan saya terpenuhi, maka saya akan bahagia.
Namun itu sungguh salah, seperti itu tampak seperti sebuah keinginan membeli kebahagiaan dengan uang. Meski diucapkan kebahagiaan namun mungkin yang diharapkan sebenarnya juga kedamaian hati.
Dan beberapa tahun terakhir ini saya disadarkan bahwa kita dijamin oleh Tuhan dan bukan oleh “kemuliaan duniawi”.
Yang sekarang sedang saya lakukan adalah bersyukur, mengandalkan Tuhan dan melakukan yang terbaik. Karena mungkin itulah inti kepasrahan, melakukan sebaik mungkin, semaksimal mungkin with the Lord.