Phew, akhirnya menginjakkan kaki kembali ke tempat ini. Kondisi beberapa minggu terakhir tidak memungkinkan untuk blog walking (kecuali beberapa kali ke tempat pak Sawali
) apalagi mengupdate blog.
Sebuah CD Linux Kubuntu 7.10 (Gutsy Gibbon) tergeletak di meja kerja selama beberapa lama dan seminggu yang lalu saya putuskan untuk menginstall sistem operasi yang sama sekali baru bagi saya. Saya tidak pernah punya pengalaman dengan Linux kecuali beberapa kali mencoba Live CD. Btw, CD tersebut saya dapatkan gratis setelah memesan dari Shipit-Kubuntu. Sebenarnya mereka beberapa kali mengabulkan permintaan tersebut dan telah mengirimkan mungkin lebih dari duapuluh keping ke rumah sejak tahun 2006. Waktu itu kemudian saya bagikan ke kawan-kawan dan baru sekarang benar-benar mempergunakannya.
Sebagai seorang awam, saya tidak mau mengambil resiko dan memilih menjadikan desknote ECS usang punya saya menjadi dual boot. Secara umum, instalasi Kubuntu sama mudahnya dengan instalasi Windows XP.
Hal yang pertama dilakukan adalah booting dari Live CD dimana kita bisa sekaligus “test drive” mencoba menjalankan Kubuntu selayaknya OS itu telah terinstall dikomputer kita. Setelah mantap, saat paling mendebarkan bagi seorang awam adalah meng-klik tombol install. Seperti halnya instalasi windows, yang perlu kita lakukan hanyalah memberikan informasi sesuai dengan menu yang tampil antara lain, bahasa, lokasi, setting waktu dan tanggal. Setelah itu kemudian muncul dialog yang menanyakan dimana kita akan mengintall Kubuntu. Secara default, dia akan mempergunakan free space yang ada di drive C: dan yang perlu kita lakukan adalah menentukan seberapa besar space hardisk yang akan dipergunakan (5 GB ternyata cukup).
Setelah itu, komputer akan otomatis membuat partisi Linux baru dan menjalankan instalasi. Setelah selesai, komputer akan otomatis mencari sistem operasi yang telah ada, dalam hal ini Windows XP, dan kemudian mengeset boot manager (GRUB) yang nanti fungsinya adalah memilih sistem operasi apa yang akan kita jalankan. Secara default, sistem akan memilih Kubuntu. Reboot dan selesai sudah. Saya memiliki sebuah komputer dengan dual boot (Kubuntu dan XP).
Alasan saya memilih dual boot adalah pertimbangan hardware support dimana driver tertentu harus kita cari sendiri di world wide web.
Setelah semuanya selesai, kesan pertama dengan Kubuntu adalah desktopnya bagus. Kubuntu memakai desktop KDE sementara Ubuntu memakai desktop Gnome. Kemudian mulailah tes hardware dan tampaknya Kubuntu 7.10 tidak memiliki masalah dengan vga dan soundcard. Masalahnya, dia tidak mendeteksi built-in conexant modem dan infra red device. Setelah googling beberapa waktu, akhirnya ketemu juga driver conexant modem untuk Linux dan cara instalasinya.
Hari kedua saya mulai memperlajari operasi Kubuntu dan ternyata dalam hal ini user disarankan akrab dengan command line dimana perintah-perintahnya sedikit berbeda dengan DOS. Waduh, harus belajar lagi ternyata.
Kubuntu memiliki install manager dengan GUI seperti layaknya Windows. Masalahnya, install manager ini menuntut kita untuk online dengan world wide web untuk melakukan instalasi. Di situ terdapat list banyak program yang mungkin kita perlukan dan setelah dipilih, sistem akan otomatis mendownload file yang diperlukan.
Pilihan lain adalah jika kita memiliki DVD Repository yang memuat seluruh file yang mungkin kita perlukan. Waduh, ini jadi masalah bagi saya, ndak bisa online dan juga tidak memiliki DVD tersebut.
Solusinya adalah manual install dengan command line atau aplikasi lain yang tersedia dan mempergunakan offline installer yang telah didownload sebelumnya seperti layaknya di Windows. Kekurangan metode ini ternyata bahwa installer package di Kubuntu tidak memuat seluruh file yang diperlukan untuk instalasi seperti halnya Windows. Ketika sebuah program diinstall, kadang muncul pesan bahwa kita harus memiliki file lain yang diinstall sebelumnya. Hal ini mereka sebut dependency dan ternyata jika dependecy belum lengkap, instalasi tidak bisa dilakukan. Yang merepotkan ternyata, persan error yang muncul tidak merinci file apa saja yang diperlukan untuk dependency namun satu persatu. Jadi setelah file pertama dilengkapi, file pelengkap tapi juga bilang dia butuh file lain.
Waduh …
Ternyata instalasi Kubuntu menuntut kita untuk melengkapi sendiri fasilitas OS seperti kebutuhan kita. Sebagai contoh, Kubuntu menginstall Amarok (sebuah MP3 player) namun tidak mengikut sertakan MP3 codec-nya. Contoh lain adalah, ternyata mereka tidak mengikut sertakan partition manager dan network sharing secara default. Sesuatu yang masih harus saya lengkapi.
Sampai hari ini, hal yang belum bisa saya selesaikan adalah mencarikan driver built-in infrared device, VPN support untuk dial-up dan fasilitas networking-nya.
Untuk orang awam seperti saya, hal ini cukup merepotkan. Namun tidak berarti akan segera diuninstall. Jika kemudian ada kawan-kawan yang bersedia membantu (please), thank you sooo much ….








welkam bek, mas
maap ga bisa bantu soalnya blom ngerti Linux juga
baru niat mo belajar hehehe
wih, review lengkap nih…. Thanks Yach
matamb sekali, pak sigid. dengan kubuntu, kita bisa terbebas dari “rezim” microsoft windows yang selama ini telah “menjajah” di berbagai belahan dunia, hehehehehe
sayangnya, masih banyak driver yang nggak friendly sehingga mestu memburu sendiri di internet. selamat, pak sigid, mudah2an makin enjoy dan nyaman dari serangan virus yang seringkali bikin kepala nyut2an. saya sendiri juga masih belum bisa menemukan driver yang cocok sampai saat ini, pak sigid. yang paling paham kayaknya mas hairtoliz nih, mahasiswa sulsel yang kini kuliah di malang. dia paham banget soal kubuntu.
teruskan perjuanganmu nak
Sebetulnya dari dulu saya kepengin migrasi jg, pernah nyoba instal PC Linux OS, cuma karena saya juga amat sangat awam sehingga saat ketemu masalah dengan printer Lexmark yang ngga ke detek akhirnya balik lagi ke XP.
Lagipula pekerjaan saya tidak memungkinkan untuk menggunakan Linux sbg OS.
wah sayang banget diriku cuma pake xp
Ada yang perlu saya bantu?
@ Edy
Sama-sama belajar yuk mas, sepertinya hal itu layak untuk dicoba kok …
@ Bambosi
Waduh, bukan mas, hanya impresi seorang yang baru pertama kali mencoba. Awam lagi
@ Sawali
Wah, terima kasih infonya njih pak. Iya e, drivernya harus digoogling sendiri. Tapi terlepas dari masalah yang saya ungkap di atas, kemarin ternyata Kubuntu mampu mendetek Ha Pe Samsung Slimo dan Sony Ericsson seri W tanpa driver.
@ kabarihari
Sepertinya printer yang banyak disupport printer HP ya mas. Wah, kalau masalah kerjaan sih, saya usahakan untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah (paling ndak untuk tempat kerja yang satu ini)
Kemarin saya nginstall Wine mas, emulator Windows, tapi ndak semua program Windows ternyata bis ajalan dengan Wine.
@ hanggadamai
Eh, saya kan juga pakai XP mas. Saya bikin dual boot karena saya belum menguasai Kubuntu.
@ dana
He he, sepertinya mengajari saya seluk beluk tentang Linux, paling ndak Kubuntu terdengar seperti ide menarik
Enak mana bro, windows sama linux??
Kalau kemudahannya, sepertinya masih user-friendly yang Windows je mas …
Tapi terlepas dari itu, Kubuntu layak untuk dicoba lho mas
saiia ga tau apa-apahhh.. ^dasar gaptek^ komputer sajah yang saiia pake pas udah bisa dipake.. halahhhh.. ^apa sih maksudnyahhh..^
He he, ndak mbak, maksudnya Operating System nya itu lho …
Kalau biasanya kita nyalain komputer terus keluar MIcrosoft Windows XP, itu yang keluar Kubuntu (meskipun XPnya masih bisa dipakai).
Kalau Windows XP Original kan harus mbayar, kalau Kubuntu Linux Original kan free …
lha gimana cara ngga bawa kerjaan ke rumah mas, wong leptop kantor ngga boleh di tinggal di kantor je.
lagipula sopwer CAD saya ndak mungkin jg jalan di linux, akhirnya ya sudah linux cuma buat main2 aja dan itu jg sudah tercukupi dengan menjalankan live CDnya saja.
kalo engga saya cukup pake Virtual PC buat nyobain linuxnya
mas, gak langsung nyoba yang 8.04 sekalian?
selamat atas kebebasan dari pembajakan
@ kabarihari
Wah, nek ngono ya … manuuut
Sajake cen terkondisikan ngono, software CAD-nya memang susah dapet versi linux.
@ fetro
He he, CD kirimannya belum datang mas
Mas fetro masih pakai Ubuntu yah …
ga ngerti aku, sory ya, ganet, salah kenal aja, he..
dirumah pake ubuntu, tapi masih yang 7.10 yang 8.04 belum diinstall, belum beli reponya.
kalo di kantor, kebijakannya pake windows, alhamdulillah pake program yang open source semua.
@ ubadbmarko
Njih, salam kenal juga …
@ fetro
Eh, iya ya, mendingan beli DVD repo saja ya biar ndak repot untuk instalasi.
Kalo sudah ada kubuntu, kenapa harus beli MacBook ya?
sebagian pc di kantorku juga udah di linux kan..
tapi aku jadi kesulitan untuk program2 statistik dan ekonometrik. karena semua underwindows…
sedihhhh
Masih setia sama PeCeLinuxOS 2007 saya
@ ardians
Iya, dari dulu saya heran tu mas, kenapa harus beli Mac sih …
Penilaian subjektif saya kayaknya Apple Mac itu tidak menarik, apa sih yang diunggulkan … he he
Fact :
- Harga Mahal
Mendingan paki Kubuntu (Free) atau Win XP (Cheaper)
- Software pendukung susah didapat
Mending pakai Linux sekalian, alternatif soft. nya banyak
- Desktop yang bagus
Pakai Kubuntu dengan KDE-nya ndak kalah bagus
- Bebas virus
Linux juga tuh, di Win XP tersedia anti virus
- Kecepatan
Ndak kelihatan beda kan …
- dll ….
@ ika
Biasanya ada alternatif Open Source untuk linux mbak Ika, tapi ya gitu deh, mungkin kurang user friendly.
Kalau software statistik, misalnya alternatif SPSS contohnya SciCraft
@ utchanovsky
He he, ini saya baru newbie pakai linux mas
hidup fedora!!!
@ teguh
Hiks, yang ini saja saya masih belum menguasai
Wah sama dong mas, saya jg dah pernah dikirimin tuh CDnya 2 tahun yang lalu. Tapi ampe sekarang gak pernah diinstall ke kompi.. Cuman pake life CDnya doang..
He he, iya mas. Tapi sekarang punya saya juga jarang dipakai Ubuntunya karena komputernya yang makai istri saya
Dah bbr bulan gak ngikuti si pingun..
terakhir Ubuntu:Feisty -
Skng lebih suka ama CenTos.. lman buat nyoba Server
Hidup Linux